Hanya sejenak untuk melihat diri dan berjalan lagi, seteguh gunung dia berdiri, Setabah nelayan menembus badai, Sebebas elang dia berteriak, seikhlas karang menunggu ombak, seperti lautan dia bersikap
Friday, July 10, 2015
INGIN, PERLU, BUTUH
Ingin itu seperti es krim. Boleh didapat boleh tidak. Bisa sekarang bisa nanti. Bisa banyak atau sedikit. Bisa besok pagi bisa kapan-kapan. Ada atau tidak, tidak terlalu bernilai bagi kita.
Perlu itu seperti handphone. Perlu itu penghubung dua manfaat. Dengannya kepentingan yang lebih besar bisa difasilitasi sehingga hidup yang tumbuh bisa terciptakan.
Butuh itu soal hidup atau mati. Butuh itu soal ada dan tiada. Terpenuhi atau tidaknya menentukan hidup atau mati, atau menentukan keberadaan dan eksistensi. Butuh itu seperti udara dan air.
Sebagai manusia, kita cenderung mendengar hanya yang ingin kita dengar, melihat hanya yang ingin kita lihat, merasakan hanya yang ingin kita rasakan.
Lalu kita tertipu oleh diri sendiri.
Padahal, ada yang perlu kita dengar sekalipun tak ingin kita dengar. Ada yang bahkan butuh kita dengar agar kita selamat sekalipun diri ini tak ingin mendengarnya. Ada yang perlu dan butuh kita lihat dan rasakan, sekalipun kita tidak ingin melihat atau merasakannya.
Kita menolak yang perlu dan butuh hanya karena keduanya sering datang dari luar dan tak mampu menggeser yang ingin karena itu datang dari AKU. Seperti anak kecil yang menangis meraung berguling di lantai meyakini es krim itu kebutuhan.
Realitas hidup yang indah, baik dan benar, adalah hasil dari cantiknya bermain menghubung-hubungkan berbagai fakta dengan sudut-sudut kehendak kita
Subscribe to:
Posts (Atom)