Friday, July 10, 2015

INGIN, PERLU, BUTUH




Ingin itu seperti es krim. Boleh didapat boleh tidak. Bisa sekarang bisa nanti. Bisa banyak atau sedikit. Bisa besok pagi bisa kapan-kapan. Ada atau tidak, tidak terlalu bernilai bagi kita.

Perlu itu seperti handphone. Perlu itu penghubung dua manfaat. Dengannya kepentingan yang lebih besar bisa difasilitasi sehingga hidup yang tumbuh bisa terciptakan.

Butuh itu soal hidup atau mati. Butuh itu soal ada dan tiada. Terpenuhi atau tidaknya menentukan hidup atau mati, atau menentukan keberadaan dan eksistensi. Butuh itu seperti udara dan air.

Sebagai manusia, kita cenderung mendengar hanya yang ingin kita dengar, melihat hanya yang ingin kita lihat, merasakan hanya yang ingin kita rasakan.

Lalu kita tertipu oleh diri sendiri.
Padahal, ada yang perlu kita dengar sekalipun tak ingin kita dengar. Ada yang bahkan butuh kita dengar agar kita selamat sekalipun diri ini tak ingin mendengarnya. Ada yang perlu dan butuh kita lihat dan rasakan, sekalipun kita tidak ingin melihat atau merasakannya.

Kita menolak yang perlu dan butuh hanya karena keduanya sering datang dari luar dan tak mampu menggeser yang ingin karena itu datang dari AKU. Seperti anak kecil yang menangis meraung berguling di lantai meyakini es krim itu kebutuhan.

Realitas hidup yang indah, baik dan benar, adalah hasil dari cantiknya bermain menghubung-hubungkan berbagai fakta dengan sudut-sudut kehendak kita

Wednesday, June 24, 2015

INDAHNYA KETIDAKSEMPURNAAN


Jika ingin dunia ini gelap dan mencekam, tak perlu repot mengecatnya dan cukuplah dengan mengganti kacamata. Jika ingin dunia ini indah maka koleksilah kacamata yang transparan dan apa adanya.
Kelemahan terbesar dari kesempurnaan adalah ketidakmungkinannya untuk dicapai. Ketidaksempurnaanlah yang membuat dunia ini tetap berjalan dan di dalam ketidaksempurnaanlah letaknya segala keindahan.
Ketidaksempurnaanlah yang membuat handphone kini setipis gelas, sebab jika yang sebelumnya telah sempurna, maka yang kita genggam sekarang hanyalah benda berat yang besar seperti botol air mineral.
Ketidaksempurnaanlah yang membuat mobil kini super hemat, cepat, dan ringan, sebab jika yang sebelumnya telah sempurna, maka yang kita kendarai sekarang bukan Innova tapi Kijang Doyok.
Ketidaksempurnaanlah yang membuat jari kini mengetik di tuts keyboard yang mungil, sebab jika yang sebelumnya telah sempurna kita pasti tidak bekerja dengan laptop melainkan dengan desktop. Itu pun, dengan Windows 3.1 di dalamnya dan bukan Windows 8.
Mereka yang kaya, yang sukses dan berhasil hatinya, telah kaya, sukses dan berhasil mengepaskan kacamata dan dengan cerdas mencari dan menemukan ketidaksempurnaan, lalu merubahnya menjadi peluang dan kesempatan.
Adanya pesawat karena kita kurang cepat. Komputer lahir karena kita kurang mahir. Handphone muncul supaya kita makin mudah bergaul. Ada yang menjual karena ada yang membeli. Ada yang menawarkan karena ada yang membutuhkan. Bisnis lahir untuk menyempurnakan ketidaksempurnaan. Segala kekurangan dan ketidaksempurnaan adalah peluang dan kesempatan.
Justru itu. Makna hidup adalah tentang mengupgrade versi-versi lama. The past is not a place of residence, it's a palace of reference.

(om popa, 25 juni 2015)